Kamis, 08 Juni 2017

Perjuangan rakyat Kebumen pasca Kemerdekaan

Tulisan berikut mengisahkan sepenggal kisah perjuangan rakyat Kebumen di masa-masa jelang kemerdekaan dan sesudahnya.

Wilayah pegunungan yang membujur dari barat sampai ke timur di Kabupaten Kebumen yang dibelah oleh sungai Luk Ulo, dan juga sebagian besar wilayah yang saat itu masih berupa hutan-hutan belantara  merupakan benteng pertahanan yang cukup efektif bagi rakyat Kebumen di saat menghadapi serangan penjajah Belanda.
Jembatan Tembono yang dibangun oleh pemerintah Belanda tempo doeloe menghubungkan wilayah tepian barat sungai Luk Ulo dengan wilayah tepian timur sungai besar tersebut. Ketika itu jembatan Tembono sempat dibom oleh para pejuang, sehingga serangan tentara Belanda yang bermarkas di Gombong terhambat oleh sungai Luk Ulo.

Ketika serangan Belanda hampir sampai ke kota Kebumen, pada bulan Oktober 1947, pusat pemerintahan dipindah ke Prembun dan baru kembali ke Kebumen setelah ada gencatan senjata pada tanggal 16 Februari 1948. Pemerintah Kabupaten Kebumen mengalami kekacauan akibat serangan Belanda dari Gombong untuk menuju Yogyakarta yang datang secara tiba-tiba tanggal 19 Desember 1948, sehingga ibu kota pemerintahan dipindah ke kecamatan Alian (kurang lebih 10 km sebelah utara kota Kebumen).

Waktu itu keadaan daerah kabupaten Kebumen bisa dikatakan terpecah menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan.

Bagian utara meliputi kecamatan Sempor, Karanggayam, Sadang, Alian, Kutowinangun dan Prembun. Bagian selatan meliputi kecamatan Puring, Petanahan, Klirong, Buluspesantren, Ambal dan Mirit.

Pemerintahan Kabupaten Kebumen dipegang oleh pihak militer. Pusat pemerintahan baru bisa kembali ke kota setelah perundingan KMB di negeri Belanda mendapat persetujuan pada bulan November 1949, dimana pada akhirnya  akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 terjadi pengakuan Belanda terhadap Republik Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar