Kamis, 08 Juni 2017

Kebumen pada masa Agresi Militer Belanda I

Kebumen Pada Masa Agresi Militer Belanda I

Perjanjian Linggarjati antara Indonesia-Belanda ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947. Persetujuan ini menimbulkan suasana dalam negeri sangat buruk/keruh, termasuk juga suasana di daerah Kebumen. Keadaan masyarakat Kebumen pada waktu itu pecah menjadi dua golongan yaitu golongan pro dan golongna kontra Linggarjati. Dua golongan ini semakin giat dalam usahanya dan saling membenarkan pendapatnya sendiri-sendiri.

Golongan kontra Linggarjati mendirikan Benteng Republik Indonesia pada bulan April 1947, sementara golongan pro juga mengadakan kegiatan-kegiatan yaitu mengadakan kampanye penerangan tentang naskah Linggarjati di daerah-daerah.

Lalu pada tanggal 27 Mei 1947 delegasi Belanda mengirimkan nota ancaman dan berisi tuntutan-tuntutan. Pengiriman nota ini menimbulkan kemarahan rakyat Kebumen, maka persiapan-persiapan untuk menghadapi kemungkinan- kemungkinan yang terjadi segera digiatkan kembali. Di kecamatan-kecamatan diadakan asrama pemuda-pemuda. Demikian juga di desa-desa dikumpulkan pasukan yang terdiri dari pemuda-pemuda desa setempat dengan diketuai oleh  Kepala Desa masing-masing (Sejarah Singkat Perdjuangan Bersenjata Bangsa Indonesia - Djakarta: Kelompok Kerdja Universitas Indonesia, 1946 , hlm. 47. 18 Ibid., hlm. 37. 44). Corps Pemuda di Kebumen dibentuk dan di bawah pimpinan langsung Mayor Sudarmo sebagai komandan gerilya.

Pada bulan Juni 1947 segera dibentuk sebuah badan khusus yang bernama Badan Koordinasi Kabupaten Kebumen, diketuai oleh Bupati Soedjono. Dalam badan itu duduk diantaranya dari ketentaraan dan pasukan rakyat yang bersenjata termasuk juga Angkatan Oemat Islam.

Belum lama badan itu dibentuk, secara mendadak Belanda dari Jawa Barat mengadakan serangan terhadap daerah Republik pada tanggal 21 Juli 1947. Segera rakyat terutama pemuda-pemudanya bersama TNI di bawah pimpinan Mayor Sudarmo mengadakan tindakan.

Ketika tentara Belanda sampai di Buntu (perbatasan dengan kabupaten Banyumas), rakyat di daerah Kebumen dikerahkan dengan serentak untuk membuat rintangan-rintangan jalan yaitu menebang pohon-pohon di kanan kiri jalan, menghancurkan jembatan, membuat lubang-lubang dan bumi hangus. Tindakan ini dilakukan pada malam hari.

Bumi hangus pertama kali dilakukan di distrik Gombong. Bangunan- bangunan yang dibumi hangus di Gombong yaitu Asrama Polisi, Kantor Pos, Kantor Telegram, Kawedanan, Rumah Gadai, Stasiun, Gedung Bioskop dan Tangsi. Sayang sekali bumi hangus tidak dapat sempurna sehingga setelah Belanda masuk Gombong dapat ditempati sebagai markas besarnya. Kota Gombong ini dibumi hangus oleh Laskar Rakyat, Hisbullah, dan organisasi- organisasi rakyat lainnya. (Sewindu Kebumen Berjuang - Kebumen: Panitia Peringatan 17 Agustus 1953, hlm. 93. 20 Ibid., hlm. 27. 45)Sementara itu serangan Belanda semakin mendekat ke Timur.Akhirnya pada tanggal 4 Agustus 1947, sekitar pukul 16.00 tentara Belanda masuk perbatasan kota Gombong. Dengan serangan mendadak akhirnya Belanda berhasil menduduki kota Gombong. Tentara Republik terpaksa menyingkir ke daerah sebelah Timur sungai Kemit yaitu Karanggayam.

Tentara Belanda terus mengadakan pembantaian terhadap penduduk setempat, sehingga terjadilah pertempuran sengit dan terkenal dengan nama Pertempuran Karanggayam.

Belanda bergerak dari Gombong kearah Utara melalui Sidayu, Penimbun, Kenteng, menyusup menuju Karanggayam, sebelumnya patroli TNI sudah kontak senjata dengan pasukan Belanda. Pasukan Belanda membagi diri menjadi beberapa kesatuan menyerang pertahanan TNI yang berkedudukan di gunung Pukul, maupun markas komando sektor yang berada di Kalipancur.

Sementara itu, pasukan Belanda yang sudah menduduki gunung Kradenan dan simpang Kajoran menyerang pasukan tentara pelajar yang mempertahankan markas Batalyon 62 di Kalipancur.

Dalam pertempuran ini pasukan TP yang gugur sejumlah 20 orang, sedangkan tentara Belanda yang gugur sejumlah enam puluh orang. Mengingat kedudukan pasukan Batalyon 62 semakin kritis maka sekitar pukul 02.00 malam, mayor Panuju selaku komandan pasukan Batalyon 62 memerintahkan pasukan untuk pindah ke desa Celapar. Kemudian setelah semalam di desa Celapar, pasukan Batalyon 62 kembali lagi mempertahankan Karanggayam pada tanggal 20 Agustus 1947, sambil mengadakan pembersihan dan mengubur anggota yang gugur.

Meskipun sudah ada seruan tentang dihentikannya tembak menembak antara pihak RI dengan pihak Belanda, tetapi penjagaan di seluruh daerah Kebumen semakin diperkuat karena Belanda sering mengadakan serangan atau patroli di sekitar Gombong, yang tak sedikit menimbulkan korban rakyat. Pengiriman pasukan-pasukan rakyat ke garis pertahanan terus mengalir dan diatur oleh Biro Perjuangan di Kebumen.

Pasukan rakyat yang dikirim kegaris depan antara lain: Angkatan Oemat Islam, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia, Laskar Rakyat, Hisbullah dan sebagainya. Pada bulan September 1947 tentara Belanda yang berada di Gombong semakin mengganas. Belanda mengadakan patroli sampai ke daerah Ayah dan Kuwarasan, dan di situlah timbul banyak korban rakyat baik harta benda maupun jiwa. Sebagian besar penduduk pergi mengungsi, yang tinggal hanya pemuda-pemuda yang bertugas menjaga keamanan.Tetapi selama Belanda sedang mengadakan patroli pemuda- pemuda ini juga bersembunyi karena apabila ketahuan Belanda tentu mereka akan ditangkap dan dibunuh. Orang-orang yang ditangkap Belanda ini ditembak di atas jembatan kereta api, yang kemudian dikenal dengan jembatan Renville.

Pada bulan September 1947, Belanda mengadakan serangan lagi dengan kanon dari desa Purwogondo menuju Petanahan yang menjadi sasaran yaitu masjid yang pada saat itu sedang berlangsung sholat Hari Raya Idul Fitri.  Pertahanan rakyat berpusat di Adimulyo, Karanggayam, Puring, Karanganyar dan Petanahan.

Selanjutnya serangan Belanda yang lebih dahsyat dan menimbulkan banyak korban terjadi di desa Candi (Karanganyar). Untuk memperingati  peristiwa tersebut pemerintah kemudian mendirikan tugu peringatan di dekat pasar Candi (Ibid., hlm. 27. 47). Tugu peringatan itu diresmikan pada tanggal 23 Maret 1950.

Sementara itu pasukan Belanda semakin mendekat ke Timur, Jembatan Tembono dihancurkan oleh pasukan gerilya Republik. Pertahanan rakyat disebelah barat sungai Luk Ulo membujur ke Selatan, sedangkan Sruweng menjadi daerah patroli Belanda. Persiapan-persiapan rakyat yaitu merencanakan sistem bumi hangus dan membuat rintangan dikerjakan terus menerus baik siang maupun malam hari. Dapur-dapur perjuangan didirikan pada bulan November 1947 kota Kebumen merupakan kota sunyi karena jalan-jalan besar penuh dengan pohon-pohon yang ditebangi dan berlubang-lubang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar