Kamis, 08 Juni 2017

Kebumen di masa pendudukan Jepang

Masa Pendudukan Jepang

Di masa pendudukan Jepang kebangkitan keprajuritan bangsa Indonesia jauh lebih luas dari sebelumnya. Menjelang Perang Dunia ke dua dan Perang Pasifik pecah, Jepang telah memasukkan agen-agennya ke Indonesia. Tindakan Jepang ini untuk membantu invasinya, kemudian Jepang menghubungi beberapa tokoh Indonesia dan golongan Nasionalis dan golongan agama dengan harapan dapat membantu mereka setelah tiba saatnya.

Ketika tentara Jepang memasuki daerah Kebumen dan mendapat perlawanan dari Belanda disebelah barat kota Yogyakarta. Sebelum Balatentara Jepang sampai ke kota Kebumen tangki bensin yang ada di Kebumen diledakkan oleh Belanda dengan maksud agar Jepang tidak memperoleh bahan bakar, sedangkan Belanda bersiap-siap untuk lari mundur ke Cilacap kemudian ke Australia.

Tentara Belanda yang berada di Gombong ada sedikitnya tiga batalyon, mereka adalah gabungan antara stoptroop dan orang-orang yang telah dipensiun dipanggil kembali serta batalyon milisi. Walaupun Belanda mendapat bantuan dari tentara Amerika dan Australia tetapi dapat dikalahkan oleh Jepang dalam waktu singkat.

Setelah Belanda menyerah, sejak itu pula beralih penjajahan kolonial Belanda ke penjajah Jepang. Kemudian Jepang menempati Beteng dan sekolah-sekolah sebagai markasnya, sedangkan di Gombong Jepang menempati Pendapa Kawedanan.

Sekolah-sekolah menjelang datangnya Jepang banyak yang tutup kurang lebih selama tiga bulan. Setelah Jepang berkuasa ada usaha untuk membuka sekolah-sekolah kembali. Sebelum itu di bentuk badan kontak yang berusaha memajuan pendidikan dan untuk saling bantu membantu dari guru-guru swasta. Pengurus Badan Kontak terdiri dari sekolah-sekolah swasta.

Setelah pengurus Badan Kontak ini menghubungi pemerintah Jepang untuk membuka sekolah- sekolah yang sudah lama tutup. Jepang mengijinkan asal bahasa pengantar tidak menggunakan bahasa Belanda dan Inggris, tetapi dengan menggunakan bahasa Nippon dan juga dengan bahasa Indonesia. Sebelum sekolah-sekolah di Kebumen dibuka kembali, Jepang telah berkesempatan membuka kursus-kursus pelajaran bahasa Jepang secara massal tanpa pandang jabatan atau tingkat sekolah.

Di jaman Belanda sekolah-sekolah diklasifikasikan menjadi sekolah dasar tiga tahun berbahasa Jawa dan berijasah. Kemudian sesudah menamatkan pelajarannya selama tiga tahun itu dapat melanjutkan sekolah yang bernama Vervolkschool dua tahun berbahasa Melayu dan mendapat ijasah. Setelah itu tiga tahun lagi masuk sekolah Belanda yang namanya Schakelschool lima tahun berbahasa Belanda atau masuk sekolah yang lamanya tujuh tahun yang bernama HIS.

Setelah lulus dari HIS dapat melanjutkan ke sekolah tehnik ataupun sekolah guru atau sekolah menengah umum MULO.10 Jaman Jepang sekolah-sekolah tersebut diubah menjadi Sekolah Rakyat. HIS dan Schakelschool dijadikan satu dan dinamakan Sekolah Rakyat, yang dulu sampai kelas tujuh hanya menjadi kelas lima dan diselesaikan dalam beberapa bulan dengan mendapat ijasah.

Seluruh tulisan pada ijasah berhuruf kanji: Jiragama dan Katagama. Dibeberapa tempat dibuka pula sekolah-sekolah menengah. Pada jaman Belanda sekolah MULO di Purworejo dibuka kembali oleh Jepang dengan diganti nama menjadi SMP (Sekolah Menengah Pertama). Di Kebumen satu-satunya sekolah menengah adalah Ambachlegal, Sekolah Teknik dua tahun berbahasa Melayu tetap jalan. Ditambah didirikan Sekolah Teknik empat tahun sebagai pengganti Technic School. Sejak akhir 1942 Kebumen memiliki sekolah teknik dua tahun dan empat tahun yang menggunakan satu gedung tetapi mempunyai kepala sekolah sendiri-sendiri.

Sebelum perang Asia Timur Raya, Jepang mempunyai cita-cita tentang seseorang satria atau Bushi. Salah satu syarat menjadi seorang Bushi adalah berbakti kepada tuannya, yang mereka pentingkan adalah semangat. Semangat ini pula yang Jepang ajarkan kepada masyarakat di wilayah yang mereka duduki. Mereka yang memiliki semangat besar mendapat pujian dan diberi ijasah yang dimengerti oleh penduduk. Bangsa Indonesia diberi kedudukan di dalam badan-badan yang dibentuk Jepang. Walaupun telah berpangkat tinggi dan menjadi Jendral tetapi Bushi tetap sederhana dan tidak menuntut kemewahan. Dengan harapan untuk dipuji dan dilain pihak adanya ketakutan kepada Kampeitai atau Polisi Militer Jepang.

Tidak mengherankan jika di sekolah-sekolah ada pelajaran yang dinamakan pelajaran semangat. Kepada para pelajar ditanamkan rasa anti kepada penjajah Belanda, Inggris dan Amerika. Sampai kepada anak-anakpun diberi pelajaran nyanyian yang isinya syair kewaspadaan terhadap musuh seluruh bangsa Asia. Di samping pelajaran nyanyian yang membangun semangat juang juga diajarkan juga pelajaran Yorengkai.
Anak-anak dipersenjatai senapan kayu yang disebut Tekpo. Setiap murid memiliki senapan kayu yang ukuran panjangnya sama dengan yang asli.

Pelajaran di sekolah baik teori maupun praktek yang diberikan pada anak- anak oleh Jepang menjadi pelajaran yang berharga bagi Angkatan 45. Pelajaran yang diperoleh pada jaman Jepang merupakan kekuatan yang luar biasa untuk menghadapi kembali Belanda yang membonceng Inggris untuk kembali menjajah Indonesia.

Keadaan perekonomian pada saat Jepang menduduki Indonesia sangat buruk. Hal ini disebabkan kenaikan harga bahan makanan pokok sehari-hari. Kenaikan harga-harga barang tersebut dikarenakan kurangnya bahan kebutuhan pokok dan nilai mata uang yang merosot. Bahan pokok seperti beras dan gula  harganya membumbung tinggi  (Tashadi, Zaman Kebangkitan Nasional di Daerah Istimewa Yogyakarta. - Yogyakarta: Dep. P dan K, 1977. hlm. 200). (Yorengkai atau pelajaran baris berbaris sampai dengan teknik bertempur) . Ditambah lagi pada pada waktu pendudukan Jepang di Kebumen turun hujan terlalu lama, sehingga padi, ketela, pohon kelapa tidak tumbuh dan berbuah. Yang seharusnya padi dalam jangka waktu setahun bisa panen hingga tiga kali, tetapi pada waktu itu tidak pernah ada panen.

Ditengah-tengah penderitaan rakyat, Jepang masih sempat pula mengajarkan cara bercocok tanam dengan paksa kepada pemuda-pemuda, sehingga menanam padi dengan cara (sistim) digaris adalah warisan peninggalan Jepang.

Namun di samping kekejaman yang dilakukan, pemerintah Jepang juga mengadakan perbaikan-perbaikan dalam bidang ekonomi. Untuk mengatur pemerintahan daerah, para bupati secara langsung di bawah pengawasan pemerintah pusat. Di semua instansi atau lembaga diawasi oleh orang-orang Jepang, misalnya pabrik genteng di Soka dan pabrik fosfat di Ijo dipimpin oleh orang Jepang.

Di samping pejabat-pejabat resmi hingga pada kepala polisipun adalah orang Jepang. Segala kegiatan masyarakat dan jalannya pemerintahan di Kabupaten Kebumen juga diawasi.

Mulai tanggal 13 Agustus 1943 serangan-serangan dari pihak sekutu ditujukan kepada daerah-daerah diluar Jawa, misalnya tanggal 18 Agustus 1943 pesawat udara sekutu Nampak tujuh kali di atas Makasar. Tanggal 22 Agustus 1943 untuk pertama kali sejak pendudukan Jepang, kota Surabaya diserang pesawat-pesawat terbang Serikat.
Jawa Gunseikanbu mulai mengerahkan tenaga rakyat Indonesia untuk kepentingan perang Asia Timur Raya (ATR).

Pada mulanya Jepang optimis dapat menyelesaikan perang Asia Timur Raya tanpa bantuan tentara cadangan (Darto Harnoko dan Poliman, op. cit., hlm. 22. 39 ) dari rakyat daerah jajahan. Akan tetapi melihat kemajuan Amerika dan Inggris, mulailah tentara Jepang di Asia Selatan merasakan perlunya bantuan rakyat ATR.

Keadaan ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap desa, antara lain desa harus memberikan tenaga manusia yang disebut romusha. Pengarahan tenaga romusha harus tidak boleh diabaikan. Demikian pula di darah Kebumen tidak luput dari pengarahan tenaga romusha. Setiap lurah diwajibkan menyetor tenaga dengan jumlah yang telah ditentukan dan diminta pada saat tertentu. Tenaga yang diminta dengan ketentuan orang laki-laki, kemudian mereka dipekerjakan di wilayah Kabupaten, ada pula yang dikirim ke luar Jawa, misalnya ke Kalimantan bahkan sampai ke luar negeri (Singapura). Ada yang dikirim ke pulau Sumba untuk dipekerjakan membuat gua pesawat terbang.

Orang-orang yang diminta dan dikirim sebagai romusha dipekerjakan secara paksa. Sebagian besar tenaga romusha ini tidak pernah kembali lagi ke desanya. Orang-orang romusha di daerah Kabupaten Kebumen dianggap oleh Jepang sedang melakukan kerja bakti, walaupun dalam kenyataannya adalah kerja paksa.

Di daerah Kebumen romusha diperintahkan untuk membuat gua didekat terowongan Ijo di desa Jatirojo ada gunung yang bernama Maguna, di sana romusha dikerjakan oleh Jepang untuk membuat gua-gua yang cukup untuk diisi satu batalyon tentara dengan maksud untuk mempertahankan diri jika sewaktu- waktu Jepang diserang sekutu.

Tanggal 8 September 1943 Gatot Mangkupraja memelopori pembentukan pasukan sukarela. Tanggal 3 Oktober Saiko Sakikan mengijinkan pembentukan pasukan sukarela, kemudian diberi nama “Pembela Tanah Air” atau disingkat PETA.

Kesempatan memasuki lapangan Kemiliteran ini dapat digunakan untuk memperjuangkan kepentingan bangsa Indonesia sendiri kelak dikemudian hari. Maka berduyun-duyunlah pemuda Indonesia masuk PETA, masuk asrama Daidan, yang dipimpin oleh Daidanco dan Sodanco dari kalangan pemuda Indonesia sendiri.

Setelah diadakan pembentukan PETA perhatian penduduk sangat besar, yang memasuki PETA bukan hanya dari golongan bawahan tetapi juga dari golongan bangsawan.

Di kalangan masyarakat kedudukan PETA merupakan status yang tinggi. Di dalam kenyataannya kerap sekali status mereka lebih tinggi dari pada kepala daerah. Maka perubahan jabatan guru Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan menjadi opsir PETA merupakan perubahan status yang melompat. Oleh sebab itu banyak guru-guru yang mendaftarkan diri sebagai opsir PETA. Karena lambang kebesaran status ini nyata-nyata dapat terlihat, maka PETA sangat menarik di segala lapisan masyarakat.

Selain lambang yang bersifat idiil berupa semangat, memasuki PETA berarti juga tambah penghasilannya, tetapi lambang yang bersifat semangat lebih memainkan peran dari pada lambang bersifat ekonomis.

Baru dalam perkembangan selanjutnya, setelah pertempuran maka lambang status kebendaan memainkan peranan.

Kemenangan dan merajalelanya balatentara Jepang di Asia dan Pasifik ternyata tidak dapat bertahan lama. Sekutu-sekutunya di Eropa seperti Jerman dan Italia keadaanya telah mundur.

Pada tanggal 4, 7 dan 9 Mei 1945 beberapa pimpinan pasukan Jerman di tiga front telah menyerah tanpa syarat kepada sekutu dibeberapa sektor negeri Jerman (Muhammad Dimyati. Sejarah Perdjuangan Indonesia.  Djakarta: Widjaja, 1951, hlm. 61. 41 ). Dengan demikian Sekutu dapat mencurahkan kekuataannya ke daerah perang di Timur yaitu di kawasan Pasifik.

Sepertinya menghadapi Jepang memang cukup sulit, karena tentara Jepang tidak mudah menyerah. Mereka lebih banyak bersemangat bunuh diri atau melawan sampai mati. Kekuatan sekutu Amerika Inggris mendapat bantuan dari Australia Belanda dan gerilyawan lokal Papua, Pilipina, Birma, Cina, dan lain-lain untuk mematahkan pertahanan Jepang. Pulau kecil Iwojima dapat direbut oleh marinir Amerika Serikat. Ribuan pasukan dikerahkan ke pulau Okinawa untuk merebut pulau tersebut yang berjarak 400 km dari Tokyo.

Tanggal 26 Juni perlawanan Jepang di Okinawa sudah berakhir. Mulai saat itu setiap hari di Tokyo mendapat serangan. Kota-kota besar di Jepang mendapat serangan yang dahsyat dari USA. Demikianlah akhirnya pertempuran laut itu dapat diakhiri. Seluruh lautan Pasifik dapat dikuasai oleh armada Amerika. Ancaman sekutu semakin terasa. Semua pulau-pulau penting sebelah barat kepulauan Jepang direbut Amerika, walau demikian Jepang tetap bertekad untuk bertahan.

Permulaan Agustus 1945

Russia memaklumkan perang kepada Jepang, sedangkan Jepang pada saat itu menghadapi pemboman sekutu atas Hirosima dan Nagasaki. Kaisar Jepang Hirohito memerintahkan pemberhentian perang dan mengakui kekalahannya. Berita menyerahnya Jepang ini dengan cepat tersiar keseluruh dunia (Akira Nagazumi, Pemberontakan Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang - Jakarta: Yayasan Obor Indonesia , hlm. 9. 42).

Mulanya berita keruntuhan Jepang itu untuk Indonesia dirahasiakan. Semua radio disegel, sehingga hanya didengar gelombang- gelombang Jepang saja.  Hal ini juga dialami di daerah-daerah, seperti Kabupaten Kebumen.

Semua radio disegel, hanya ada radio yang diletakkan di perempatan-perempatan jalan dengan satu gelombang dan siaran yang telah ditentukan. Setiap jam-jam tertentu menyiarkan lagu Taiso (senam pagi). Sewaktu lagu Taiso dikumandangkan, semua masyarakat diwajibkan Taiso. Dengan demikian masyarakat Kabupaten Kebumen belum mengetahui tentang kekalahan Jepang terhadap sekutu.

Barulah pada tanggal 14 Agustus 1945 tersebar berita keseluruh pelosok bahwa Jepang telah menyerah kalah. Walaupun Jepang telah menyerah kalah, tetapi tentara Jepang lengkap dengan senjatanya masih bercokol di Kebumen. Oleh sebab itu para pejuang Kebumen, kemudian melakukan kegiatan untuk melucuti tentara Jepang di Sumpyuh. Pasukan dihimpun dari beberapa penjuru berkumpul di Kebumen. Mereka bersama-sama mengadakan penyerbuan ke asrama Jepang di bekas pabrik gula di Sumpyuh.

Dalam aksi perlucutan senjata di Sumpyuh tidak ada perlawanan dari pihak Jepang. Sehingga dengan mudah senjata beserta perlengakapan-perlengkapan lainnya dapat diambil alih oleh pasukan dari Kebumen.

Setelah senjata terkumpul semuanya kemudian pada sore harinya dikirim langsung dengan kereta ke Yogyakarta. Sewaktu pasukan Kebumen menyerbu tentara Jepang di Sumpyuh, mereka bersenjatakan senjata pinjaman dari polisi Negara.

Setelah itu kelompok-kelompok kecil yang berada di  Gombong yakni di desa Jebres Penjagoan, yang menguasai pabrik genteng Besole dan pabrik minyak di Kebumen dilucuti persentaannya (Darto Harnoko dan Poliman, op. cit., hlm. 25. 43).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar